Benteng Pendem Van Den Bosch, Ngawi

Saya yakin jika pembaca pasti telah mempelajari saat duduk dibangku sekolah bahwa Indonesia adalah negara yang pernah dijajah oleh Belanda selama 346 tahun. Namun, tahukah pembaca tentang penjajahan Belanda di Ngawi? Dimanakah keberadaan Ngawi?

Ngawi adalah sebuah daerah yang berada di barat Provinsi Jawa Timur dan berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Tengah. Ngawi memiliki potensi wisata yang menarik dan unik untuk dikunjungi mulai dari wisata budaya, sejarah, buatan dan lain-lain.

Berdasarkan informasi yang saya dapat bahwa pada abad ke-18 Ngawi menjadi pusat perdagangan dan pelayaran di Jawa Timur. Untuk menguasai wilayah Ngawi di Jawa Timur, Belanda mendirikan pusat pertahanan di wilayah Madiun untuk mengatasi Perang Jawa yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro. Dalam mengatasi serangan Belanda setiap wilayah yang ada di Jawa Timur terdapat seorang pemimpin. Wilayah Madiun dipimpin oleh Bupati Kerto Dirjo dan di wilayah Ngawi dipimpin oleh Adipati Judodiningrat, Raden Tumenggung Surodirjo, dan Wirotani.

Pada tahun 1825, Belanda berhasil menguasai Ngawi. Belanda memerintahkan pembangunan benteng yang berlokasi di pertemuan Bengawan Solo dan Sungai Madiun yang diberi nama Fort Van Den Bosch. Van Den Bosch sendiri berasal dari bahasa Belanda yang berarti gubernur.

Saya berkesempatan untuk melakukan kunjungan ke Benteng Van Den Bosch tepatnya di tahun 2015 lalu. Sayangnya kala itu saya tidak mengabadikan momen ketika berkunjung kesana. Perjalanan saya waktu itu, ditempuh dengan sebuah mobil pribadi, bersama dengan tante, om, keponakan, dan sopir. Kala itu saya dari rumah nenek yang ada di Sragen, Jawa Tengah. Dari Pusat Kota Sragen, perjalanan ditempuh kurang lebih 3 jam dengan jalan yang cukup lancar.



Benteng Van Den Bosch, benteng ini berlokasi di Kelurahan Pelem, Kecamatan Ngawi, Kabupaten Ngawi. Benteng peninggalan belanda Van Den Bosch dibangun pasca perang diponegoro untuk mengantisipasi prajurit-prajurit handal diponegoro yang bermarkas di Madiun dan di Ngawi. Pembangunan benteng ini selama kurang lebih 6 tahun, dari tahun 1839 sampai 1845 yang diprakarsai oleh Gubernur Jenderal Hindia-Belanda Johannes Van Den Bosch. Pembangunan dari Benteng Pendem Van Den Bosch ini melibatkan banyak insinyur dan banyak pekerja salah satunya pekerja rodi. Benteng ini dahulu sengaja dibuat lebih rendah dari tanah sekitarnya yang menjadi terlihat terpendam sehingga masyarakat Ngawi menyebut benteng ini dengan Benteng Pendem.

Pada Bangunan utama benteng dipergunakan untuk apel, siap siaga, dan menyampaikan sebuah pesan ataupun melatih para prajurit yang tengah ditugaskan di Benteng Pendem. Benteng Pendem menjadi salah satu bagian politik dari Benteng Stelsel yang dicetuskan oleh Van Den Bosch yang mana lokasinya tidak jauh dengan pertemuan antara sungai bengawan solo dan bengawan madiun karena lokasinya dahulu dijadikan sebagai lokasi perdagangan dan pelayaran. 

Saya akan mengajak pembaca sekalian untuk melihat beberapa hal yang unik dan menarik untuk dijelajahi saat berada di Benteng Pendem. Lokasi pertama yang saya kunjungi yaitu makam KH. Muhammad Nursalim. Beliau adalah seorang pahlawan bangsa yang waktu itu memperjuangkan perlawanannya terhadap pemerintah kolonial Hindia-Belanda. Beliau juga salah satu pengikut setia atau abdi setia dari pangeran diponegoro yang diperintahkan untuk menentang pendudukan kolonialisme yang ada di Ngawi. Mengetahui jika ada seorang pribumi yang melakukan perlawanan terhadap Belanda lantas para militer  menangkap beliau. Kemudian beliau diinterogasi karena disiasati memiliki kesaktian atau waskito tinggi dan dibunuh dengan senjata karena dianggap berbahaya oleh pihak Belanda. Namun, beliau kebal dengan senjata sehingga gagal dalam proses eksekusi. Lalu pihak Belanda berpikir untuk mengikat beliau dan menguburnya secara hidup-hidup. 

Lokasi selanjutnya yang saya kunjungi yaitu sumur. Sumur kala itu digunakan sebagai tindakan keji pihak Belanda yang dijadikan sebagai tempat pembuangan para pekerja rodi. Kurang lebih ada sekitar 70 an korban yang telah dibuang kedalam sumur. Beberapa korban yang dimasukkan ke dalam sumur ini tidak semuanya dalam kondisi wafat masih ada yang dalam keadaan sakit, lemah, bahkan tidak kuat dengan pekerjaan ataupun terhadap siksaan Belanda. Alangkah baiknya jika pembaca mengunjungi sumur yang ada pada Benteng Van Den Bosch untuk mendoakan pendahulu yang telah memperjuangkan bangsa kita hingga merdeka.

Lokasi yang terakhir yaitu penjara. Terdapat 4 jenis penjara yang dibuat Belanda untuk menahan para pekerja yang melakukan kesalahan, menentang kebijakan pembangunan Benteng, dan tidak ingin bekerja terhadap pemerintah Belanda. Semakin sempit atau kecil penjara semakin besar kesalahan yang dibuat oleh para tahanan dan pekerja benteng.

Setelah menyelesaikan semua misi akhirnya saya bersama dengan keluarga memutuskan untuk langsung pulang ke Malang,Jawa Timur. Sampai jumpa lagi Ngawi! Sampai jumpa kembali Benteng Van Den Bosch!

Teruntuk pembaca blog saya semoga dapat mengambil sisi positif dari pengalaman perjalanan yang telah saya buat ini dan harapan saya agar generasi muda tidak lupa akan sejarah para pendahulunya dan terus mencintai, melestarikan, dan mempelajari sejarah yang telah ada untuk dibagikan dengan orang lain agar kita semua tidak lupa akan sejarah dan budaya yang melimpah di Indonesia.

Saya bangga menjadi anak Indonesia! Salam Pariwisata! Sampai jumpa di blog saya selanjutnya.

Stay safe ! Stay Healthy!

Sumber:

https://indonesiatraveler.id/wp-content/uploads/2020/04/Benteng-Van-Den-Bosch1.jpg





Tidak ada komentar:

Posting Komentar